You are currently browsing the category archive for the ‘What had puppet done…’ category.
Sepintas, dua hal ini amat sangat tidak ada hubungannya. Mana ada, mengerjakan tugas lalu saat mengumpulkannya, kita mati? Oh yeah, saya lupa, kemungkinan mati itu memang ada, sih. Cuma, dalam kondisi lumayan fit dan tidaka ada keluhan apapun, kita hampir tidak memikirkan kemungkinan mati itu, bukan?
Ya, beginilah kisah lengkapnya…
Sore itu ( 7/2 ), saya berencana akan mengumpulkan tugas karya ilmiah sosiologi ke rumah sang guru, yang kebetulan tidak terlalu jauh letaknya dari SMP saya dulu. Tentunya, sebelum berangkat, saya harus berpamitan dahulu ke kedua orang tua saya. Tak dinyana, pap saya tidak mengizinkan saya keluar rumah, dengan alas an yang terlalu ruwet untuk dijelaskan. Kecewa? Ho~~, tentulah! Namanya juga manusia, eh, puppet, pasti dong! ^_^
Setelah negosiasi sampai telepon ke rumah Gotek dua kali juga sambil diomel-omeli sama mama, akhirnya terpaksa saya mengumpulkan tugas sosiologi itu bersama mama dan adik saya, yang sebenarnya akan pergi melayat ke rumah teman kerja ortu. Di sepanjang perjalanan, mama ( yang pada saat akan berangkat sudah saya beritahu di mana rumah guru saya itu ) tanya terus tentang guru sosiologi saya itu, karena seingat mama dulu papa pernah cerita kalau rumah salah serorang teman masa SMA papa saya ada yang lokasinya dekat dengan SMP saya dulu. Pertanyaan mama makin menjadi-jadi saat mama melihat kalau yang menerima tugas saya bukan sang guru sendiri, tetapi anak sang guru. Coba bayangkan betapa kesalnya saya, dari mulai berangkat, berhenti di rumah penjahit, lalu ke rumah ibu guru sosiologi, sampai hampir berhenti di depan rumah teman kerja ortu, mama masih tanya-tanya masalah guru itu. Hu~~uh! Pusiingg…!!! Jadinya, saya diam saja. Daripada tambah pusing…^_^
Akhirnya, kepusingan saya berhenti. Saat di rumah duka, mama sibuk mengobrol masalah kematian orang tua teman kerja papa. Saya tidak begitu memperhatikan, sih. Tetapi, sedikit-sedikit saya curi-curi dengar, dan yah, sedikit banyak saya tahu tentang flashback cerita sebelum meninggalnya orang tua teman kerja papa. Si nenek ( karena ternyata yang meninggal itu perempuan ), umur 78 tahun, meninggal entah di rumah sakit mana ( ehehe… yang ini saya agak kurang jelas ^_^ ), karena infeksi berat. Sebelum meninggal si nenek sempat membuka mata dan melihat anak-anaknya berkumpul di sekeliling kasurnya… yang disimpulkan mama saya dan temannya sebagai ‘salam absensi kematian’.
Jauh sebelum beliau meninggal, ternyata si nenek juga sempat jengkel kepada seseorang yang dulu pernah beliau tampung di rumahnya, ternyata meninggalkan si nenek sendiri karena orang itu telah menikah dengan orang lain. Mungkin ini juga terbawa saat si nenek meinggal dunia…. ( semoga tidak jadi dendam dalam kubur.. )
Yah, kasihan juga mendengar kisah singkat hidup si nenek. Tetapi sudah terlanjur terjadi mau diapakan lagi? Saya, yang hanya mendengar sekilas-sekilas saja, hanya bisa menyimpulkan dan menafsirkan sedikit cerminan dari kisah hidup si nenek. Di antaranya, selesaikan dulu apa saja yang menjadi kewajiban saya. Karena di dunia ini, hukum timbal balik saja yang terjadi. Siapa menuai, itulah yang dahulu menanam. Kewajiban atau tugas saya itu apa saja? Ho~~, jelas bermacam-macam. Ratusan post di blog ini tak akan bisa menjabarkannya, karena tugas saya itu tidak bisa hanya dituliskan tanpa diselesaikan. Kalau tidak selesai, akibatnya akan saya tanggung saat mati. Yah, seperti si nenek itu, atau apa yang akan terjadi kalau saya tidak mengumpulkan tugas sosiologi saya itu.
Lalu, saya tidak boleh melupakan apalagi meninggalkan orang tua saya, baik apapun itu keadaannya. Saya tidak mau, nantinya orang tua saya akn terlupakan di saat-saat tua mereka nanti. Jangan seperti si nenek, yang hanya sekilas lewat saja dikunjungi sekali waktu oleh anak-anaknya, dan ditinggal sendiri oleh orang yang dulu pernah ditampungnya. Ho~~, tragis sekali….

Recent Comments