You are currently browsing the category archive for the ‘What had puppet done…’ category.

Hari Selasa kemarin, waktu jam pelajaran Bahasa China yang dianggap menyebalkan dan gurunya pun kelihatan lucu, kebetulan Sang Laotse (guru di Bahasa China) ngaret, saat itu anak-anak mulai bikin ramai. Ada yang main hape, dengerin mp3, ngegosip, mengerjakan PR dari buku saya atau buku anak lain, juga ada yang makan dan nyanyi-nyanyi seenak udel. 
Saya? Ho.. pastinya, ikut ramai seperti anak-anak! Wajar lah, saya juga hanya manusia biasa dengan seabrek karunia nyeleneh yang juga tidak bisa untuk menyerap pelajaran saat-saat sekitar saya amat berisik. Maka, saya pun ikut mengobrol dengan anak-anak, Fanani, Akira dan Gotek.  
Waktu berjalan dengan lambat, dan lalu Fanani mencetuskan suatu ide gila. Tahukah kamu, apa itu? Main ular tangga. Ular tangga! Yang dimainkan sama anak-anak TK itu! Well, karena merasa tidak keren, maka Akira memutuskan untuk pindah ke sebelah Jehan, anak baru yang lumayan mirip sama Mike Idol. 
OK, kembali lagi ke tiga orang sarap. Hm.. karena kita tidak ada yang membawa ular tangga, maka kita putuskan untuk mebuatnya sendiri. Tugas pun terbagi-bagi dengan sendirinya: 
Þ    Hanabi (Saya sendiri)à merelakan lembar tengah buku Bahasa China untuk dibuat papan ular tangga dan sekaligus bikin garis-garis ular tangga pakai pensil sebanyak 80 kotakà dikorupsi 20 kotak dari ukuran standar ular tangga internasional :D  
Þ    Gotekà mendoakan biar main ular tangganya biar dia yang menang duluan. (lho?). bikin dadu yang Cuma bisa dilihat 4 angka, dan buat gaconya ular tangga. 
Þ    Fananià finishing papan ular tangga, bikin nomor, kotak Start dan Finish, ular dan tangga yang hampir tidak ada bedanya, kecuali satu bintik mata yang menandakan gambarnya itu adalah ular. Menyempurnakan dadu 4 angka bikinan Gotek, dan ikutan buat gaco. 
Lalu, permainan siap dimulai. Yang main Cuma Gotek dan Fanani, saya berjaga-jaga kalau tiba-tiba nanti ada gurunya datangà bohong :p. Permainan dimulai, dengan suit yang dimenangkan oleh Fanani, dan posisi Akira yang berganti orang jadi Rean, yang biasanya duduk sebelah Titis.  
Dadu dilempar, dan… yang muncul Cuma angka 2… :D .Saya pun keberatan, dan hampir teriak-teriak curang soalnya memang menyalahi peraturan yang saya biasa mainkan, kalau dapat 6 baru boleh jalan. Lalu, Fanani pun menyanggah peraturan saya dengan mengatakan kalau ular tangga yang ini berbeda dari yang saya biasa mainkan. 
Gotek lalu melempar dadu, yang keluar malah lebih kecil, satu titik saja! Haha…!Lalu, lemparan berikutnya, tidak juga kunjung bagus. Dan, saat Gotek melempar… dia dapat tangga! Fanani pun menggerutu kesal, tapi.. kan salah dia sendiri, kenapa tadi bikin tangganya ditaruh di kotak itu??!! :D Malahan, Fanani sempat melorot gara-gara ngelempar dan dapat ular. 
Setelah godaan Akira yang bilang kalau penghapus tak bertuan yang dipakai dadu dan gaco ular tangga itu punya Erin yang ternyata tidak terbukti (bahkan Erin pun menyangkalnya dengan segera setelah Akira menggoda Gotek), naik-naik beberapa kali, kena ular dan melorot jauh (Gotek melorot dari angka 90-an ke 70), Fanani yang kena gusur gaconya Gotek, Gotek yang gak masuk-masuk ke kotak Finish padahal dari tadi sudah nangkring di angka 98-an, akhirnya… pemenang main ular tangga gila-gilaan babak satu ini adalah… Debby Gotek!! Doanya yang di awal sebelum main tadi benar-benar manjur, kawan! Dan memang terbukti, Gotek yang menang!! Hidup Gotek!! à euphoria semu seorang teman sebangku.. :mrgreen:  
Oh.. akhirnya sang guru dating! Akira dan Rean pun kembali ke tempat semula, tetapi permainan ular tangga masih berjalan. Kali ini, Akira pun bahkan ikutan main! Katanya, mumpung gurunya belum ke bangku saya ngecek PR anak-anak, jadi tidak masalah main duluan! :D
Well, saat permainan berjalan beberapa menit, Gurunya pun berpindah tempat ke depan saya!! Permainan pun terpaksa dihentikan. Dadu dibereskan, gaco-gaconya pun dibuang, buku PR diletakkan di atas meja, dan papan ular tangganya pun masih saya simpan yang rencana semula akan saya post bersama post ular tangga ini. 
Ahaha… saya menyesal kenapa nggak ikutan main. Ternyata, seru juga! Fu.. saya berharap besok-besok kalau ada jam kosong lagi kita mainan halma gila-gilaan yang papannya nanti dibuat sama Akira… ^_^ :D
Ha…
Jaman susah duit begini…
saya masih punya tanggungan duit….
Mana juga nggak punya duit sama sekali di dompet dan saku…
Ceritanya begini, bulan November ( apa iya yah?) kemarin, saya dengan langkah ringan main-main ke perpus skul. Berniat mau baca-baca dan minjem buku, sama sekali tak berniat menggosip atau menguntit buku. Dan… di rak buku bagian biologi, saya melihat ‘itu’…
‘Itu’, yang benar-benar menarik hati saya. ‘Itu’, yang sampai sekarang berada di kamar tidur saya. ‘Itu’, yang menemani saya saat UAS Semester 1 kemarin. ‘Itu’, yang pernah ketlisut di bawah kasur….
‘Itu’, itu adalah… buku serial “Biologi” karangan Campbell Reece yang ditujukan buat anak kuliahan!!! Yang volume 1 dan 3 (kalau nggak salah.. )!!!! Warna sampulnya ijo sama merah gak jelas itu loh!!! Kyaaa…!!!! Sugooooiiii………………….!!@!!
Buku itu telah sukses bikin saya jingkrak-jingkrak persis logonya Ferrari di dalam perpus, yang untungnya penjaganya belum sempat menelpon RSJ Porong untuk mendiamkan saya.. ^_^… Dan, tanpa pikir panjang, buku itu saya pinjam. La.la.la.la….
Waktu saya menghampiri Gotek, teman setia saya dalam segala keadaan kecuali saat dia merit nanti, Gotek rada shock melihat buku serial yang saya pinjam. Sebenarnya sih, tidak kaget-kaget amat, kan tiap hari saya hampir pasti nawa buku tebel-tebel yang bikin kepala munyeng ke sekolah… tapi kali itu, pendapat Gotek terjadi di kemudian hari… Berikut saya cuplik percakapan gila kami berdua…:
Hanabi: By…. udah selesai…?? (nada sok imut, kek gak punya dosa)
Gotek: Blom. Kamu udah tah? (gak lihat ke saya, fokus ke rak novel)
Hanabi: Udah. Dapet kok, besar malah!
Gotek: Hah? (gak percaya, melihat ke belakang, ke arah saya)
             Busedh… tebel amit!
Hanabi: (senyum innocent lagi)
Gotek: Selesai tuh 1 minggu?
Hanabi: Mungkin. Kan blom dicoba…
Gotek: Keknya ga mungkin deh! Orang juga km yang pinjem, pasti bakal ngaret
Hanabi: Paling juga denda 1000 2000-an…
Gotek: Terserah sih, ak dah ngingetin loh…
Hanabi: Iya.. paham dah… Tapi masalahnya lagi butuh nih…
Gotek: Iya.. iya.. (paham tentang omongan saya)
Setelah bercakap-cakap bego begitu, saya dan Gotek ke meja petugas buat nyetorin tuh buku. Beberapa menit kemudian… Bukunya resmi saya pinjem… La.la.la….
Rasanya senengggggg……… banget… Begitu sampai di rumah, saya bolak-balik halamannya, sambil tak henti-hentinya mkengelus-elus tuh buku. Ah… buku maniss… ^_^
Tetapi, kesenangan saya itu tampaknya terlalu berlarut-larut. Tak terasa, 1 minggu, 2,3 minggu, 1 Bulan… 2 bulan, sampai Februari ini… bukunya belum saya kembalikan… Saya lupa diri… Bener-bener lupa!
Duh.. kemarin waktu Minggu Remidian, saya lupa juga bawa itu buku. Sempat saia hitung dendanya, udah sampai 30ribu lebih….Bahaya, melebihi kuota!
Takut juga utang, nanti kalau gak bisa bayar sama saja kan? Takut juga bilang mama… nanti dimarahin lagi!
Ah… buku biologi… Besok-besok biar saya beli aja ah, tuh buku…
Kapok dah pinjem skul
Kemarin, tanggal 8 Februari 2008, sekolah saya mengadakan perkemahan pelantikan Penegak Bantara, yang hanyaa diikuti oleh anak-anak kelas X dan kakak DKA kelas XI dan XII. Lokasi perkemahannya ada di pangkalan Radar 22 AURI, Jombang, Jawa Timur. Pemberangkatannya seusai sholat Jumat, pukul 13.00, yang sayangnya saya tidak tahu ngaretkah pemberangkatan mereka itu. 
 
Lho? Iya, artinya, ya saya tidak ikut berangkat kemah. Orang tua saya tidak mengizinkan, sih. Masa iya, saya mau ngotot ikut? Amat sangat tidak sopan lah, walaupun saya sendiri tidak terlalu sopan-sopan amat.. ^_^. Alasannya, karena kondisi kesehatan saya yang memang gampang sekali drop, terutama kalau sehabis bepergian, dan juga karena cuaca yang tidak menentu. Apalagi sekarang musim hujan, dan lokasi perkemahannya pum masih dekat hutan jati begitu. Bisa dibayangkan, bagaimana susahnya kalau hujan… 
 
Hari Jumat kemarin itu, dikira anak-anak, termasuk saya sendiri, bakal pulang pagi. Karena kita semua berasumsi, kalau mau berangkat kemah kan lazimnya kegiatan pembelajaran dihentikan lebih pagi daripada biasanya. Dasar sekolah saya yang sok teladan, anak-anak masih saja disekap sampai jam 11, 2 jam tepat sebelum pemberangkatan. 
 
Anak-anak pun gondok, karena dikiranya bisa checking-checking dulu sebelum berangkat, eh, malah dipulangkan jam segitu dan lagi pelajarannya full pula. Mana waktu jam olahraga, gurunya diganti, kita-kita jadi pegal gitu habis dikasih stretching atau apalah yang nekuk-nekuk kaki sampai kayak origami.. ( ehehe… ini mah, kitanya saja yang bandel.. ^_^ ). Jam bahasa Inggris, anak-anak tidak mengerjakan tugas yang diberikan, padahal nanti dikumpulkan. Tahunya, seusai jam matematika terakhir, anak-anak ribut sendiri cari contekan tugas Bahasa Inggris. Jam matematika, pada gelisah memikirkan checking barang-barang sebelum kemah. Wah, ributnya kayak pasar, deh… 
 
Tidak disangka-sangka, kemungkinan terburuk hari itu, hujan, turunnya pas jam terakhir matematika. Seperti koor, anak-anak berseru jengkel ke arah hujan, yang membuat mereka tambah gelisah memikirkan nasib kemah mereka nanti. Guru matematika saya sampai heran melihat anak-anak, juga heran kenapa saya dan Gotek kok kelihatan tenang-tenang saja, tidak jejeritan seperti anak-anak lain. 
 
Akhirnya, percakapan tiga arah pun dimulai, antara saya, Gotek dan Bu Guru Matematika. Topiknya, seputar pemberangkatan kemah Bantara, dan masalah berangkat hajinya si guru sendiri dan orang tua saya. Hasilnya, guru matematika pun berpendapat sama seperti orang tua saya dan Gotek. Kemahnya bakal agak berantakan, karena cuacanya jelek, sering hujan, apalagi lokasinya di dekat hutan jati.  
 
Bu Guru juga bilang, nanti kalau begini juga kondisi anak-anak jadi gampang drop, nanti juga berpengaruh ke hasil psikotes yang tepat dilaksanakan Hari Senin setelah selang sehari pulang kemah, yang nanti dikhawatirkan hasil psikotes anak-anak pada jeblok gara-gara tidak belajar setelah kecapaian ikut kemah kemarin. 
 
Bel lalu berbunyi, anak-anak bersorak gembira. Sambil ambil ancang-ancang cari conteka bahasa Inggris, anak-anak tetap mendengarkan nasihat Bu Guru Matematika yang terakhir, jaga kondisi selama kemah supaya hasil psikotes besok Senin sesuia denagn yang anak-anak inginkan. Well, kelas pun usai. Saya lalu melangkah keluar setelah mengumpulkan tugas bahasa Inggris itu, dan berdoa supaya anak-anak selamat saja sampai besok pulang kemah.
Tak disangka, saat di luar kelas, saya bertemu Sorata dan Yuckie ( Sorata ketemu di perempatan dekat BK, Yuckie di depan Koperas ). Yuckie ngobrol sebentar, yang intinya doaian saja supaya selamat di kemah nanti, dan juga supaya selamat gak ketemu beruang di hutab jati dekat lokasi kamp.. ^_^;. Yah,.. begitulah! Anak-anak yang ikutan kemah sengasara disiksa kejamnya alam dan bentakan senior, saya sendiri asik-asikan baca NG Indonesia sambil OL seenak udel… SEmoga kemah kalian menyenangkan, wahai teman-temanku..!! ^_^

Sepintas, dua hal ini amat sangat tidak ada hubungannya. Mana ada, mengerjakan tugas lalu saat mengumpulkannya, kita mati? Oh yeah, saya lupa, kemungkinan mati itu memang ada, sih. Cuma, dalam kondisi lumayan fit dan tidaka ada keluhan apapun, kita hampir tidak memikirkan kemungkinan mati itu, bukan? 

Ya, beginilah kisah lengkapnya… 

Sore itu ( 7/2 ), saya berencana akan mengumpulkan tugas karya ilmiah sosiologi ke rumah sang guru, yang kebetulan tidak terlalu jauh letaknya dari SMP saya dulu. Tentunya, sebelum berangkat, saya harus berpamitan dahulu ke kedua orang tua saya. Tak dinyana, pap saya tidak mengizinkan saya keluar rumah, dengan alas an yang terlalu ruwet untuk dijelaskan. Kecewa? Ho~~, tentulah! Namanya juga manusia, eh, puppet, pasti dong! ^_^ 

Setelah negosiasi sampai telepon ke rumah Gotek dua kali juga sambil diomel-omeli sama mama, akhirnya terpaksa saya mengumpulkan tugas sosiologi itu bersama mama dan adik saya, yang sebenarnya akan pergi melayat ke rumah teman kerja ortu. Di sepanjang perjalanan, mama ( yang pada saat akan berangkat sudah saya beritahu di mana rumah guru saya itu ) tanya terus tentang guru sosiologi saya itu, karena seingat mama dulu papa pernah cerita kalau rumah salah serorang teman masa SMA papa saya ada yang lokasinya dekat dengan SMP saya dulu. Pertanyaan mama makin menjadi-jadi saat mama melihat kalau yang menerima tugas saya bukan sang guru sendiri, tetapi anak sang guru. Coba bayangkan betapa kesalnya saya, dari mulai berangkat, berhenti di rumah penjahit, lalu ke rumah ibu guru sosiologi, sampai hampir berhenti di depan rumah teman kerja ortu, mama masih tanya-tanya masalah guru itu. Hu~~uh! Pusiingg…!!! Jadinya, saya diam saja. Daripada tambah pusing…^_^ 

Akhirnya, kepusingan saya berhenti. Saat di rumah duka, mama sibuk mengobrol masalah kematian orang tua teman kerja papa. Saya tidak begitu memperhatikan, sih. Tetapi, sedikit-sedikit saya curi-curi dengar, dan yah, sedikit banyak saya tahu tentang flashback cerita sebelum meninggalnya orang tua teman kerja papa. Si nenek ( karena ternyata yang meninggal itu perempuan ), umur 78 tahun, meninggal entah di rumah sakit mana ( ehehe… yang ini saya agak kurang jelas ^_^ ), karena infeksi berat. Sebelum meninggal si nenek sempat membuka mata dan melihat anak-anaknya berkumpul di sekeliling kasurnya… yang disimpulkan mama saya dan temannya sebagai ‘salam absensi kematian’. 

Jauh sebelum beliau meninggal, ternyata si nenek juga sempat jengkel kepada seseorang yang dulu pernah beliau tampung di rumahnya, ternyata meninggalkan si nenek sendiri karena orang itu telah menikah dengan orang lain. Mungkin ini juga terbawa saat si nenek meinggal dunia…. ( semoga tidak jadi dendam dalam kubur.. ) 

Yah, kasihan juga mendengar kisah singkat hidup si nenek. Tetapi sudah terlanjur terjadi mau diapakan lagi? Saya, yang hanya mendengar sekilas-sekilas saja, hanya bisa menyimpulkan dan menafsirkan sedikit cerminan dari kisah hidup si nenek. Di antaranya, selesaikan dulu apa saja yang menjadi kewajiban saya. Karena di dunia ini, hukum timbal balik saja yang terjadi. Siapa menuai, itulah yang dahulu menanam. Kewajiban atau tugas saya itu apa saja? Ho~~, jelas bermacam-macam. Ratusan post di blog ini tak akan bisa menjabarkannya, karena tugas saya itu tidak bisa hanya dituliskan tanpa diselesaikan. Kalau tidak selesai, akibatnya akan saya tanggung saat mati. Yah, seperti si nenek itu, atau apa yang akan terjadi kalau saya tidak mengumpulkan tugas sosiologi saya itu. 

Lalu, saya tidak boleh melupakan apalagi meninggalkan orang tua saya, baik apapun itu keadaannya. Saya tidak mau, nantinya orang tua saya akn terlupakan di saat-saat tua mereka nanti. Jangan seperti si nenek, yang hanya sekilas lewat saja dikunjungi sekali waktu oleh anak-anaknya, dan ditinggal sendiri oleh orang yang dulu pernah ditampungnya. Ho~~, tragis sekali….

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.