Hallo…
Ehm, sesuai janji saya, kali ini saya akan menjelaskan kenapa saya lebih suka menyebut diri saya sebagai puppet. Tetapi, apabila kamu sekalian tidak berminat untuk baca posting gak berguna ini, saya anjurkan untuk segera menutup blog ini demi keselamatan kamu sendiri…
——————————————————————————————
Ya, to the point saja, saya memang seorang puppet. Tidak lebih dan tidak kurang. Lho? Iya, sepintas saya memang tampak seperti manusia lengkap. Punya mata, telinga, hidung, tangan dan kaki yang masih normal. Walaupun sih, mata saya memang tidak normal-normal amat, karena saya pakai lensa minus 10. Tetapi, apa yang ada di dalam diri saya, semuanya tak ada yang kelihatan seperti manusia normal.
Suatu ketika, saya bisa menjadi sesorang yang tidak mudah marah, itu masih wajar. Tetapi, yang bikin orang heran, saya masih bisa tetap sabar walaupun saya sudah dicaci maki berulang kali. bahkan, kadang-kadang juga saya masih mengucap terima kasih kepada orang yang sudah mencaci maki saya, karena saya menganggap cacian mereka adalah suatu respon mereka terhadap kehadiran saya.
Tetapi sebaliknya, saya bisa jadi sesorang yang amat sangat emosional suatu ketika. Contoh sederhananya, saya pernah menangis hanya karena anak-anak sekelas yang tidak bisa diam saat tes bahasa inggris berlangsung. Atau juga, saya pernah jadi amat sangat marah hanya karena teman saya yang sedikit salah bicara, bahkan saya sempat membalas kata-kata anak itu dengan kata-kata ( yang menurut saya ) lumayan nge-flame.
Walaupun sisi emosional saya terkadang masih suka keluar, dalam keseharian, saya lebih sering mengesampingkan perasaan. Alasan saya, perasaan itu hanya mengganggu. Mengganggu apa-apa saja yang saya inginkan. makanya, saya seringkali menyakiti perasaan orang lain dengan ucapan atau perbuatan saya yang sering dibilang… tidak berperasaan”.
Tak terhitung berapa banyaknya orang yang telah saya buat menangis hanya karena perkataan saya yang tidak berperasaan. Tak terhitung pula berapa banyaknya orang yang jadi membenci saya hanya karena kata-kata tak sopan saya. Tetapi jujur, saya tidak bermaksud untuk berbuat seperti itu. Saya tidak tahu kenapa, tetapi rasanya tubuh dan mulut saya bergerak spontan seperti itu…
Baca kembali kata-kata terakhir saya di atas. Memang, seringkali saya merasa badan saya seperti bergerak di luar kontrol. Sering saya mengalami, di otak saya, sudah terpikir akan melakukan kegiatan A, tetapi, yang saya lakukan malah jadi kegiatan B. Saya jadi bingung sendiri. Entah apa yang seolah mengontrol saya, tetapi… “itu” seperti benang transparan yang sudah otomatis terpasang di tubuh saya. Benang itu, yang seringkali menyusahkan saya dengan perubahan-perubahan gila yang telah dibuatnya. Benang itu, yang selalu membuat saya terasing dan dipojokkan karena kontrol yang diberikannya…
Karenanya, saya seringkali tidak menjawab kalau ditanya, “Kenapa kamu begini, sih?”. Saya tidak pernah menjawab, karena saya tahu, kalau saya menjawab bahwa ada yang tak terlihat yang mengontrol saya, orang pasti tidak akan percaya. ” Itu” juga yang membuat saya jadi seorang yang kaku, walaupun tidak konservatif, dan terasa tak ramah terhadap sekeliling.
Bahkan, untuk sekedar melenturkan badan pun susahnya minta ampun. Untuk senam saja, pemanasannya harus dua kali lebih lama ketimbang anak-anak lainnya. Membuat saya jadi terlihat paling kaku, istilahnya mbegegrek lah kalau di bahasa Jawa.
“Itu”…. membuat saya tidak pantas disebut sebagai manusia. Saya.. makanya.. lebih memilih untuk dipanggil sebagai seorang puppet ketimbang seorang manusia.

1 comment
Comments feed for this article
February 17, 2008 at 6:14 am
Andrew Anandhika Wijaya
ventriliquis ndak…??