You are currently browsing the monthly archive for February 2008.
Ah… kayaknya posting saya kali ini benar-benar basi deh… kayak yang sudah-sudah nggak basi saja.. Tetapi, sungguh, kali ini saya benar-benar ingin sekedar menceritakan masalah kejahilan anak-anak (baca: teman sebangku) saya yang entah kenapa, dibilang sering jahil juga tidak, tetapi dibilang tidak jahil juga jahilnya lumayan lah!:lol: Ya, namanya juga anak muda, ada-ada saja yang mereka perbuat untuk sekedar menunjukkan kedekatan mereka terhadap teman-teman mereka. Begitu kata buku yang saya baca waktu saya mencari-cari ada apakah di balik kejahilan teman-teman saya. Memang benar sih, untuk menunjukkan kedekatan. Dan memang terbukti, kita-kita (maksudnya, saya dan anak-anak) jarang sekali bertengkar, kalau selisih paham mah, tiap hari juga begitu… ^_^ Nah, yang membuat saya tidak habis piker adalah… kenapa harus saya yang dijadikan bahan bercandaan? Ada apa dengan saya? Apakah karena saya begitu mempesonanya sehingga anak-anak demen ngerjain saya? à narcis gear Enabled… Ah.. jadi nggak habis pikir! Kata beberapa orang yang sering saya curhatin nggak berguna masalah ini sih, beberapa alasan utama kenapa mereka suka ngerjain saya karena:
- Saya nggak bisa bercanda! Bukan nggak bisa begitu, saya pun bukan seorang yang terlalu serius dan kaku
soalnya saya sering juga dinjek-injek. Bisa juga sih saya bercanda, Cuma nanti bercandanya terlampau garing atau… malah terlampau guyonan sarkastis..
- Saya yang paling muda di antara anak-anak. Yang paling tua sih, memang Fanani, yang duduk di belakang Debby Gotek. Terus, baru Akira, dan Debby. Yang paling muda, ya saya! Mana lahirnya saya juga sehari sebelum HUT RI, malah semakin asyik saya digodain…
- Saya kebablas ngefans sama Hatake Kakashi atau apapun yang berbau Naruto. Tiap kali kita ada kesempatan ngobrol, dan pas waktu saya kebagian jatah ngomong, saya pasti sempat sempatnya bicara masalah Naruto, entah itu manganya, atau animenya, atau juga anime Naruto di Global TV yang sampai bosan dilihat juga diulang-ulangi melulu…
- Saya demen coret-coret. Di manapun, apakah itu meja, tembok (jujur, di skul, karena ada poin-poin aneh, saya belum sempat ikut coret-coret tembok skul), buku pelajaran, notes, kertas oret-oret matematika, buku tulis, apapun itu pokoknya ada di deket saya, pasti akan saya coret-coret. Mana gitu, gambarnya nggak bisa bagus juga! Pasti aneh!
- Kalau saya ngomong, kecepatannya seperti kecepatan cahaya dan volumenya memang notabene lebih keras daripada anak-anak kalau bicara.
Weh… ternyata, saya begitu anehnya di mata anak-anak! Sampai-sampai, saya nggak menyadarinya. Ehm.. sebab-sebab anak-anak suka menjahili saya sudah ada, tinggal sekarang, kejahilan apa yang biasanya dilakukan anak-anak ke saya..
- Pencerahan mendadak. Saya memang kurang suka sesuatu yang terlalu bercahaya, bisa juga dibilang, saya adalah kelelawar..
Makanya, kalau Crazy Gear saya Enabled state, Fanani, yang duduk di belakang Debby Gotek, bakalan membuka gorden hijau di sebelahnya supaya cahaya matahari bisa masuk dengan bebasnya.. dan saya pun jadi “normal” kembali… Uh.. pakai mulut juga bisa, kenapa harus buka gorden sih??!! à Jeritan Hati…
- “ Gambar lu aneh, deh! Nggak proporsional banget!”. Uh… itu yang kira-kira terlontar dari mulut anak-anak saat saya menggambar sesuatu yang eksotis…Ah… apakah mereka nggak bisa menghargai seni yang sesungguhnya?
- Bilang sindiran yang pakai majas sinisme. Yang ini, amat sangat sering dilakukan. Seperti, kalau saya lagi asyik menyalin kerjaan tugas TIK yang masih agak berantakan di waktu PKN (maklumlah, anak SMA!! Wajar kalo PR masih suka dibetulin waktu pelajaran!
), anak-anak akan bilang begini, “Debby, jangan kerjakan tugas TIK di waktu PKN!”à karena Debby Gotek duduk sebelah saya, makanya anak-anak nyindirnya begitu! UH!! Padahal, kalau mereka dalam posisi kayak saya juga nggak bakal mau digituin!
- Bilang, “Lucu, By?” atau “Lucu, Fan?”, terus dijawab, “ Nggak blas! (Bahasa Jawa untuk nggak lucu sama sekali). Ini juga sering. Terlebih kalau saya coba bikin jokes yang memang nggak selucu anak-anak yang bikin jokes. Tetapi, itu agak menusuk hati saya lho! Juju raja ya, tetapi.. sedikit banyak agak menyinggung, euy!
- Bilang, “Lo elo, gue gue. Muke lo, pantat gue,”. Sarkastis? Agak sih! Tetapi, emang itu yang anak-anak bilang kalau saya lagi mencoba-coba mempengaruhi mereka ikutan bikin blog ataupun ikutan masuk forum…
Agaknya, kali ini saya seperti mengadukan sesuatu yang sebenarnya nggak perlu diadukan! Tetapi, kan memang fungsi blog begitu… *digaplok blogger lainnya*. Well, apapun mereka, apapun yang mereka bilang, merekalah teman-teman saya sekarang! Teman kok saling benci-bencian sih?
Sepintas, dua hal ini amat sangat tidak ada hubungannya. Mana ada, mengerjakan tugas lalu saat mengumpulkannya, kita mati? Oh yeah, saya lupa, kemungkinan mati itu memang ada, sih. Cuma, dalam kondisi lumayan fit dan tidaka ada keluhan apapun, kita hampir tidak memikirkan kemungkinan mati itu, bukan?
Ya, beginilah kisah lengkapnya…
Sore itu ( 7/2 ), saya berencana akan mengumpulkan tugas karya ilmiah sosiologi ke rumah sang guru, yang kebetulan tidak terlalu jauh letaknya dari SMP saya dulu. Tentunya, sebelum berangkat, saya harus berpamitan dahulu ke kedua orang tua saya. Tak dinyana, pap saya tidak mengizinkan saya keluar rumah, dengan alas an yang terlalu ruwet untuk dijelaskan. Kecewa? Ho~~, tentulah! Namanya juga manusia, eh, puppet, pasti dong! ^_^
Setelah negosiasi sampai telepon ke rumah Gotek dua kali juga sambil diomel-omeli sama mama, akhirnya terpaksa saya mengumpulkan tugas sosiologi itu bersama mama dan adik saya, yang sebenarnya akan pergi melayat ke rumah teman kerja ortu. Di sepanjang perjalanan, mama ( yang pada saat akan berangkat sudah saya beritahu di mana rumah guru saya itu ) tanya terus tentang guru sosiologi saya itu, karena seingat mama dulu papa pernah cerita kalau rumah salah serorang teman masa SMA papa saya ada yang lokasinya dekat dengan SMP saya dulu. Pertanyaan mama makin menjadi-jadi saat mama melihat kalau yang menerima tugas saya bukan sang guru sendiri, tetapi anak sang guru. Coba bayangkan betapa kesalnya saya, dari mulai berangkat, berhenti di rumah penjahit, lalu ke rumah ibu guru sosiologi, sampai hampir berhenti di depan rumah teman kerja ortu, mama masih tanya-tanya masalah guru itu. Hu~~uh! Pusiingg…!!! Jadinya, saya diam saja. Daripada tambah pusing…^_^
Akhirnya, kepusingan saya berhenti. Saat di rumah duka, mama sibuk mengobrol masalah kematian orang tua teman kerja papa. Saya tidak begitu memperhatikan, sih. Tetapi, sedikit-sedikit saya curi-curi dengar, dan yah, sedikit banyak saya tahu tentang flashback cerita sebelum meninggalnya orang tua teman kerja papa. Si nenek ( karena ternyata yang meninggal itu perempuan ), umur 78 tahun, meninggal entah di rumah sakit mana ( ehehe… yang ini saya agak kurang jelas ^_^ ), karena infeksi berat. Sebelum meninggal si nenek sempat membuka mata dan melihat anak-anaknya berkumpul di sekeliling kasurnya… yang disimpulkan mama saya dan temannya sebagai ‘salam absensi kematian’.
Jauh sebelum beliau meninggal, ternyata si nenek juga sempat jengkel kepada seseorang yang dulu pernah beliau tampung di rumahnya, ternyata meninggalkan si nenek sendiri karena orang itu telah menikah dengan orang lain. Mungkin ini juga terbawa saat si nenek meinggal dunia…. ( semoga tidak jadi dendam dalam kubur.. )
Yah, kasihan juga mendengar kisah singkat hidup si nenek. Tetapi sudah terlanjur terjadi mau diapakan lagi? Saya, yang hanya mendengar sekilas-sekilas saja, hanya bisa menyimpulkan dan menafsirkan sedikit cerminan dari kisah hidup si nenek. Di antaranya, selesaikan dulu apa saja yang menjadi kewajiban saya. Karena di dunia ini, hukum timbal balik saja yang terjadi. Siapa menuai, itulah yang dahulu menanam. Kewajiban atau tugas saya itu apa saja? Ho~~, jelas bermacam-macam. Ratusan post di blog ini tak akan bisa menjabarkannya, karena tugas saya itu tidak bisa hanya dituliskan tanpa diselesaikan. Kalau tidak selesai, akibatnya akan saya tanggung saat mati. Yah, seperti si nenek itu, atau apa yang akan terjadi kalau saya tidak mengumpulkan tugas sosiologi saya itu.
Lalu, saya tidak boleh melupakan apalagi meninggalkan orang tua saya, baik apapun itu keadaannya. Saya tidak mau, nantinya orang tua saya akn terlupakan di saat-saat tua mereka nanti. Jangan seperti si nenek, yang hanya sekilas lewat saja dikunjungi sekali waktu oleh anak-anaknya, dan ditinggal sendiri oleh orang yang dulu pernah ditampungnya. Ho~~, tragis sekali….
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Recent Comments