Ah… kayaknya posting saya kali ini benar-benar basi deh… kayak yang sudah-sudah nggak basi saja.. Tetapi, sungguh, kali ini saya benar-benar ingin sekedar menceritakan masalah kejahilan anak-anak (baca: teman sebangku) saya yang entah kenapa, dibilang sering jahil juga tidak, tetapi dibilang tidak jahil juga jahilnya lumayan lah!:lol: Ya, namanya juga anak muda, ada-ada saja yang mereka perbuat untuk sekedar menunjukkan kedekatan mereka terhadap teman-teman mereka. Begitu kata buku yang saya baca waktu saya mencari-cari ada apakah di balik kejahilan teman-teman saya. Memang benar sih, untuk menunjukkan kedekatan. Dan memang terbukti, kita-kita (maksudnya, saya dan anak-anak) jarang sekali bertengkar, kalau selisih paham mah, tiap hari juga begitu… ^_^ Nah, yang membuat saya tidak habis piker adalah… kenapa harus saya yang dijadikan bahan bercandaan? Ada apa dengan saya? Apakah karena saya begitu mempesonanya sehingga anak-anak demen ngerjain saya? à narcis gear Enabled… Ah.. jadi nggak habis pikir! Kata beberapa orang yang sering saya curhatin nggak berguna masalah ini sih, beberapa alasan utama kenapa mereka suka ngerjain saya karena:                                                                                                                           

  1. Saya nggak bisa bercanda! Bukan nggak bisa begitu, saya pun bukan seorang yang terlalu serius dan kaku soalnya saya sering juga dinjek-injek. Bisa juga sih saya bercanda, Cuma nanti bercandanya terlampau garing atau… malah terlampau guyonan sarkastis..

 

  1. Saya yang paling muda di antara anak-anak. Yang paling tua sih, memang Fanani, yang duduk di belakang Debby Gotek. Terus, baru Akira, dan Debby. Yang paling muda, ya saya! Mana lahirnya saya juga sehari sebelum HUT RI, malah semakin asyik saya digodain…

 

  1. Saya kebablas ngefans sama Hatake Kakashi atau apapun yang berbau Naruto. Tiap kali kita ada kesempatan ngobrol, dan pas waktu saya kebagian jatah ngomong, saya pasti sempat sempatnya bicara masalah Naruto, entah itu manganya, atau animenya, atau juga anime Naruto di Global TV yang sampai bosan dilihat juga diulang-ulangi melulu…

 

  1. Saya demen coret-coret. Di manapun, apakah itu meja, tembok (jujur, di skul, karena ada poin-poin aneh, saya belum sempat ikut coret-coret tembok skul), buku pelajaran, notes, kertas oret-oret matematika, buku tulis, apapun itu pokoknya ada di deket saya, pasti akan saya coret-coret. Mana gitu, gambarnya nggak bisa bagus juga! Pasti aneh!

 

  1. Kalau saya ngomong, kecepatannya seperti kecepatan cahaya dan volumenya memang notabene lebih keras daripada anak-anak kalau bicara.

 Weh… ternyata, saya begitu anehnya di mata anak-anak! Sampai-sampai, saya nggak menyadarinya. Ehm.. sebab-sebab anak-anak suka menjahili saya sudah ada, tinggal sekarang, kejahilan apa yang biasanya dilakukan anak-anak ke saya.. 

  1. Pencerahan mendadak. Saya memang kurang suka sesuatu yang terlalu bercahaya, bisa juga dibilang, saya adalah kelelawar.. :mrgreen: Makanya, kalau Crazy Gear saya Enabled state, Fanani, yang duduk di belakang Debby Gotek, bakalan membuka gorden hijau di sebelahnya supaya cahaya matahari bisa masuk dengan bebasnya.. dan saya pun jadi “normal” kembali… Uh.. pakai mulut juga bisa, kenapa harus buka gorden sih??!! à Jeritan Hati…

 

  1. “ Gambar lu aneh, deh! Nggak proporsional banget!”. Uh… itu yang kira-kira terlontar dari mulut anak-anak saat saya menggambar sesuatu yang eksotis…Ah… apakah mereka nggak bisa menghargai seni yang sesungguhnya?

 

  1. Bilang sindiran yang pakai majas sinisme. Yang ini, amat sangat sering dilakukan. Seperti, kalau saya lagi asyik menyalin kerjaan tugas TIK yang masih agak berantakan di waktu PKN (maklumlah, anak SMA!! Wajar kalo PR masih suka dibetulin waktu pelajaran! :mrgreen: ), anak-anak akan bilang begini, “Debby, jangan kerjakan tugas TIK di waktu PKN!”à karena Debby Gotek duduk sebelah saya, makanya anak-anak nyindirnya begitu! UH!! Padahal, kalau mereka dalam posisi kayak saya juga nggak bakal mau digituin!

 

  1. Bilang, “Lucu, By?” atau “Lucu, Fan?”, terus dijawab, “ Nggak blas! (Bahasa Jawa untuk nggak lucu sama sekali). Ini juga sering. Terlebih kalau saya coba bikin jokes yang memang nggak selucu anak-anak yang bikin jokes. Tetapi, itu agak menusuk hati saya lho! Juju raja ya, tetapi.. sedikit banyak agak menyinggung, euy!

 

  1. Bilang, “Lo elo, gue gue. Muke lo, pantat gue,”. Sarkastis? Agak sih! Tetapi, emang itu yang anak-anak bilang kalau saya lagi mencoba-coba mempengaruhi mereka ikutan bikin blog ataupun ikutan masuk forum…

 Agaknya, kali ini saya seperti mengadukan sesuatu yang sebenarnya nggak perlu diadukan! Tetapi, kan memang fungsi blog begitu… *digaplok blogger lainnya*. Well, apapun mereka, apapun yang mereka bilang, merekalah teman-teman saya sekarang! Teman kok saling benci-bencian sih? :mrgreen:

Hari Selasa kemarin, waktu jam pelajaran Bahasa China yang dianggap menyebalkan dan gurunya pun kelihatan lucu, kebetulan Sang Laotse (guru di Bahasa China) ngaret, saat itu anak-anak mulai bikin ramai. Ada yang main hape, dengerin mp3, ngegosip, mengerjakan PR dari buku saya atau buku anak lain, juga ada yang makan dan nyanyi-nyanyi seenak udel. 
Saya? Ho.. pastinya, ikut ramai seperti anak-anak! Wajar lah, saya juga hanya manusia biasa dengan seabrek karunia nyeleneh yang juga tidak bisa untuk menyerap pelajaran saat-saat sekitar saya amat berisik. Maka, saya pun ikut mengobrol dengan anak-anak, Fanani, Akira dan Gotek.  
Waktu berjalan dengan lambat, dan lalu Fanani mencetuskan suatu ide gila. Tahukah kamu, apa itu? Main ular tangga. Ular tangga! Yang dimainkan sama anak-anak TK itu! Well, karena merasa tidak keren, maka Akira memutuskan untuk pindah ke sebelah Jehan, anak baru yang lumayan mirip sama Mike Idol. 
OK, kembali lagi ke tiga orang sarap. Hm.. karena kita tidak ada yang membawa ular tangga, maka kita putuskan untuk mebuatnya sendiri. Tugas pun terbagi-bagi dengan sendirinya: 
Þ    Hanabi (Saya sendiri)à merelakan lembar tengah buku Bahasa China untuk dibuat papan ular tangga dan sekaligus bikin garis-garis ular tangga pakai pensil sebanyak 80 kotakà dikorupsi 20 kotak dari ukuran standar ular tangga internasional :D  
Þ    Gotekà mendoakan biar main ular tangganya biar dia yang menang duluan. (lho?). bikin dadu yang Cuma bisa dilihat 4 angka, dan buat gaconya ular tangga. 
Þ    Fananià finishing papan ular tangga, bikin nomor, kotak Start dan Finish, ular dan tangga yang hampir tidak ada bedanya, kecuali satu bintik mata yang menandakan gambarnya itu adalah ular. Menyempurnakan dadu 4 angka bikinan Gotek, dan ikutan buat gaco. 
Lalu, permainan siap dimulai. Yang main Cuma Gotek dan Fanani, saya berjaga-jaga kalau tiba-tiba nanti ada gurunya datangà bohong :p. Permainan dimulai, dengan suit yang dimenangkan oleh Fanani, dan posisi Akira yang berganti orang jadi Rean, yang biasanya duduk sebelah Titis.  
Dadu dilempar, dan… yang muncul Cuma angka 2… :D .Saya pun keberatan, dan hampir teriak-teriak curang soalnya memang menyalahi peraturan yang saya biasa mainkan, kalau dapat 6 baru boleh jalan. Lalu, Fanani pun menyanggah peraturan saya dengan mengatakan kalau ular tangga yang ini berbeda dari yang saya biasa mainkan. 
Gotek lalu melempar dadu, yang keluar malah lebih kecil, satu titik saja! Haha…!Lalu, lemparan berikutnya, tidak juga kunjung bagus. Dan, saat Gotek melempar… dia dapat tangga! Fanani pun menggerutu kesal, tapi.. kan salah dia sendiri, kenapa tadi bikin tangganya ditaruh di kotak itu??!! :D Malahan, Fanani sempat melorot gara-gara ngelempar dan dapat ular. 
Setelah godaan Akira yang bilang kalau penghapus tak bertuan yang dipakai dadu dan gaco ular tangga itu punya Erin yang ternyata tidak terbukti (bahkan Erin pun menyangkalnya dengan segera setelah Akira menggoda Gotek), naik-naik beberapa kali, kena ular dan melorot jauh (Gotek melorot dari angka 90-an ke 70), Fanani yang kena gusur gaconya Gotek, Gotek yang gak masuk-masuk ke kotak Finish padahal dari tadi sudah nangkring di angka 98-an, akhirnya… pemenang main ular tangga gila-gilaan babak satu ini adalah… Debby Gotek!! Doanya yang di awal sebelum main tadi benar-benar manjur, kawan! Dan memang terbukti, Gotek yang menang!! Hidup Gotek!! à euphoria semu seorang teman sebangku.. :mrgreen:  
Oh.. akhirnya sang guru dating! Akira dan Rean pun kembali ke tempat semula, tetapi permainan ular tangga masih berjalan. Kali ini, Akira pun bahkan ikutan main! Katanya, mumpung gurunya belum ke bangku saya ngecek PR anak-anak, jadi tidak masalah main duluan! :D
Well, saat permainan berjalan beberapa menit, Gurunya pun berpindah tempat ke depan saya!! Permainan pun terpaksa dihentikan. Dadu dibereskan, gaco-gaconya pun dibuang, buku PR diletakkan di atas meja, dan papan ular tangganya pun masih saya simpan yang rencana semula akan saya post bersama post ular tangga ini. 
Ahaha… saya menyesal kenapa nggak ikutan main. Ternyata, seru juga! Fu.. saya berharap besok-besok kalau ada jam kosong lagi kita mainan halma gila-gilaan yang papannya nanti dibuat sama Akira… ^_^ :D
Ehehehe….
Kali ini, saya akan main iseng-isengan…
Gak iseng-iseng amat kok! Perhatikan ke bawah…
Ehehe…
Saya biasa mengepost di blog saiia ini dengan mengetikkan postingan lewat MS.Word, lalu saya simpan bentuk RTF, dan lalu kalau saya online, setelah log ini, saya akan mulai membuat post baru sambil mengcopy paste dari file RTF yang sudah saya buat.
Oh ya, kalau biasanya saya pakai cara copipaste begitu, pakainya font yang Franklin Gothic ukuran 12, yang biasanya ada beberapa kata yang saya buat efek strikethrough…
Dengan cara itu, bisa hemat sedikit waktu untuk sekedar mengetik langsung dari WordPress kan??
Ya… agak ngejunk! Tapi, inilah cara saya mengepost ke blog nggak penting ini….
^_^ Selamat menikmati…^_^
Saya benci gosip. Benci!!!
Makanya, saya benci infotainment. Berisik! Disgusting!!Adanya juga cewek cantik pake bustier atau camisol atau tanktop berdandan gitu, bicarain jeleknya orang. Apa enaknya coba? Huh…
Busedh! Kenapa juga manusia gemar bergosip? Apakah tidak ada topik lain yang lebih berguna untuk dibahas? Apakah gosip itu berguna dan membantu secara langsung dalam kehidupan sehari-hari?
Saya benar-benar membutuhkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan saya di atas. Karena, entah kenapa, saya kok rasanya illfeel gitu yah, melihat orang yang gemar bergosip. Rasanya, saya seperti melihat pendosa begitu, kalau melihat gossipers berkumpul dan membicarakan sesuatu sambil cekikikan.
Ukh… ini wajar tidak sih??
Saya benar-benar benci gosip, apalagi orang yang menggosipkan orang lain yang juga berada di tempat yang sama, apalagi sampai kedengaran yang digosipin.<— saya pernah ngerasakannya, mungkin agak terbawa dendamm… ^_^
Ukh.. kenapa juga harus ada kosakata bernama gosip itu? Apakah manfaatnya? Kenapa juga gosip itu ada? Duh… saya benar-benar tak mengerti deh tentang dunia ini.
Gosip kan hanya bikin orang lain sakit hati, akhirnya berantem lah, pukul-memukul lah, main kasar lah, nge-flaming segala, terus kenapa juga masih ada orang yang hobi bergosip? Apakah mereka masih nggak takut juga sama dosa dan siksa api neraka atau karma habis mati alias dalam kubur yang seperti film seri Hidayah itu??
Ok, lupakan yang ada di paragraf atas itu. Tetapi logikanya, sesuatu hal yang tidak membawa manfaat secara langsung atau lebih jauh laggi, manfaat dalam jangka panjang, bukannya harusnya dibuang jauh-jauh dari pikiran?Nah, kalau dipkir-pikir, bukannya gosip dan konco-konconya itu termasuk yang tak membawa manfaat dan sudah sepantasnya dibuang?
Akh… kenapa pula ini… Gosip itu ternyata bikin pusing. Seperti saya yang menulis postingan gak jelas dan gak mutu ini…
Tetapi, yg jelas, saya benar-benar benci gosipp….
SayNoTo GOSSIPP….
Ha…
Jaman susah duit begini…
saya masih punya tanggungan duit….
Mana juga nggak punya duit sama sekali di dompet dan saku…
Ceritanya begini, bulan November ( apa iya yah?) kemarin, saya dengan langkah ringan main-main ke perpus skul. Berniat mau baca-baca dan minjem buku, sama sekali tak berniat menggosip atau menguntit buku. Dan… di rak buku bagian biologi, saya melihat ‘itu’…
‘Itu’, yang benar-benar menarik hati saya. ‘Itu’, yang sampai sekarang berada di kamar tidur saya. ‘Itu’, yang menemani saya saat UAS Semester 1 kemarin. ‘Itu’, yang pernah ketlisut di bawah kasur….
‘Itu’, itu adalah… buku serial “Biologi” karangan Campbell Reece yang ditujukan buat anak kuliahan!!! Yang volume 1 dan 3 (kalau nggak salah.. )!!!! Warna sampulnya ijo sama merah gak jelas itu loh!!! Kyaaa…!!!! Sugooooiiii………………….!!@!!
Buku itu telah sukses bikin saya jingkrak-jingkrak persis logonya Ferrari di dalam perpus, yang untungnya penjaganya belum sempat menelpon RSJ Porong untuk mendiamkan saya.. ^_^… Dan, tanpa pikir panjang, buku itu saya pinjam. La.la.la.la….
Waktu saya menghampiri Gotek, teman setia saya dalam segala keadaan kecuali saat dia merit nanti, Gotek rada shock melihat buku serial yang saya pinjam. Sebenarnya sih, tidak kaget-kaget amat, kan tiap hari saya hampir pasti nawa buku tebel-tebel yang bikin kepala munyeng ke sekolah… tapi kali itu, pendapat Gotek terjadi di kemudian hari… Berikut saya cuplik percakapan gila kami berdua…:
Hanabi: By…. udah selesai…?? (nada sok imut, kek gak punya dosa)
Gotek: Blom. Kamu udah tah? (gak lihat ke saya, fokus ke rak novel)
Hanabi: Udah. Dapet kok, besar malah!
Gotek: Hah? (gak percaya, melihat ke belakang, ke arah saya)
             Busedh… tebel amit!
Hanabi: (senyum innocent lagi)
Gotek: Selesai tuh 1 minggu?
Hanabi: Mungkin. Kan blom dicoba…
Gotek: Keknya ga mungkin deh! Orang juga km yang pinjem, pasti bakal ngaret
Hanabi: Paling juga denda 1000 2000-an…
Gotek: Terserah sih, ak dah ngingetin loh…
Hanabi: Iya.. paham dah… Tapi masalahnya lagi butuh nih…
Gotek: Iya.. iya.. (paham tentang omongan saya)
Setelah bercakap-cakap bego begitu, saya dan Gotek ke meja petugas buat nyetorin tuh buku. Beberapa menit kemudian… Bukunya resmi saya pinjem… La.la.la….
Rasanya senengggggg……… banget… Begitu sampai di rumah, saya bolak-balik halamannya, sambil tak henti-hentinya mkengelus-elus tuh buku. Ah… buku maniss… ^_^
Tetapi, kesenangan saya itu tampaknya terlalu berlarut-larut. Tak terasa, 1 minggu, 2,3 minggu, 1 Bulan… 2 bulan, sampai Februari ini… bukunya belum saya kembalikan… Saya lupa diri… Bener-bener lupa!
Duh.. kemarin waktu Minggu Remidian, saya lupa juga bawa itu buku. Sempat saia hitung dendanya, udah sampai 30ribu lebih….Bahaya, melebihi kuota!
Takut juga utang, nanti kalau gak bisa bayar sama saja kan? Takut juga bilang mama… nanti dimarahin lagi!
Ah… buku biologi… Besok-besok biar saya beli aja ah, tuh buku…
Kapok dah pinjem skul
Hallo…
Ehm, sesuai janji saya, kali ini saya akan menjelaskan kenapa saya lebih suka menyebut diri saya sebagai puppet. Tetapi, apabila kamu sekalian tidak berminat untuk baca posting gak berguna ini, saya anjurkan untuk segera menutup blog ini demi keselamatan kamu sendiri…
——————————————————————————————
Ya, to the point saja, saya memang seorang puppet. Tidak lebih dan tidak kurang. Lho? Iya, sepintas saya memang tampak seperti manusia lengkap. Punya mata, telinga, hidung, tangan dan kaki yang masih normal. Walaupun sih, mata saya memang tidak normal-normal amat, karena saya pakai lensa minus 10.  Tetapi, apa yang ada di dalam diri saya, semuanya tak ada yang kelihatan seperti manusia normal.
Suatu ketika, saya bisa menjadi sesorang yang tidak mudah marah, itu masih wajar. Tetapi, yang bikin orang heran, saya masih bisa tetap sabar walaupun saya sudah dicaci maki berulang kali. bahkan, kadang-kadang juga saya masih mengucap terima kasih kepada orang yang sudah mencaci maki saya, karena saya menganggap cacian mereka adalah suatu respon mereka terhadap kehadiran saya.
Tetapi sebaliknya, saya bisa jadi sesorang yang amat sangat emosional suatu ketika. Contoh sederhananya, saya pernah menangis hanya karena anak-anak sekelas yang tidak bisa diam saat tes bahasa inggris berlangsung. Atau juga, saya pernah jadi amat sangat marah hanya karena teman saya yang sedikit salah bicara, bahkan saya sempat membalas kata-kata anak itu dengan kata-kata ( yang menurut saya ) lumayan nge-flame.
Walaupun sisi emosional saya terkadang masih suka keluar, dalam keseharian, saya lebih sering mengesampingkan perasaan. Alasan saya, perasaan itu hanya mengganggu. Mengganggu apa-apa saja yang saya inginkan. makanya, saya seringkali menyakiti perasaan orang lain dengan ucapan atau perbuatan saya yang sering dibilang… tidak berperasaan”.
Tak terhitung berapa banyaknya orang yang telah saya buat menangis hanya karena perkataan saya yang tidak berperasaan. Tak terhitung pula berapa banyaknya orang yang jadi membenci saya hanya karena kata-kata tak sopan saya. Tetapi jujur, saya tidak bermaksud untuk berbuat seperti itu. Saya tidak tahu kenapa, tetapi rasanya tubuh dan mulut saya bergerak spontan seperti itu…
Baca kembali kata-kata terakhir saya di atas. Memang, seringkali saya merasa badan saya seperti bergerak di luar kontrol. Sering saya mengalami, di otak saya, sudah terpikir akan melakukan kegiatan A, tetapi, yang saya lakukan malah jadi kegiatan B.  Saya jadi bingung sendiri. Entah apa yang seolah mengontrol saya, tetapi… “itu” seperti benang transparan yang sudah otomatis terpasang di tubuh saya. Benang itu, yang seringkali menyusahkan saya dengan perubahan-perubahan gila yang telah dibuatnya. Benang itu, yang selalu membuat saya terasing dan dipojokkan karena kontrol yang diberikannya…
Karenanya, saya seringkali tidak menjawab kalau ditanya, “Kenapa kamu begini, sih?”. Saya tidak pernah menjawab, karena saya tahu, kalau saya menjawab bahwa ada yang tak terlihat yang mengontrol saya, orang pasti tidak akan percaya. ” Itu” juga yang membuat saya jadi seorang yang kaku, walaupun tidak konservatif, dan terasa tak ramah terhadap sekeliling.
Bahkan, untuk sekedar melenturkan badan pun susahnya minta ampun. Untuk senam saja, pemanasannya harus dua kali lebih lama ketimbang anak-anak lainnya. Membuat saya jadi terlihat paling kaku, istilahnya mbegegrek lah kalau di bahasa Jawa.
“Itu”…. membuat saya tidak pantas disebut sebagai manusia. Saya.. makanya.. lebih memilih untuk dipanggil sebagai seorang puppet ketimbang seorang manusia.
Kemarin, tanggal 8 Februari 2008, sekolah saya mengadakan perkemahan pelantikan Penegak Bantara, yang hanyaa diikuti oleh anak-anak kelas X dan kakak DKA kelas XI dan XII. Lokasi perkemahannya ada di pangkalan Radar 22 AURI, Jombang, Jawa Timur. Pemberangkatannya seusai sholat Jumat, pukul 13.00, yang sayangnya saya tidak tahu ngaretkah pemberangkatan mereka itu. 
 
Lho? Iya, artinya, ya saya tidak ikut berangkat kemah. Orang tua saya tidak mengizinkan, sih. Masa iya, saya mau ngotot ikut? Amat sangat tidak sopan lah, walaupun saya sendiri tidak terlalu sopan-sopan amat.. ^_^. Alasannya, karena kondisi kesehatan saya yang memang gampang sekali drop, terutama kalau sehabis bepergian, dan juga karena cuaca yang tidak menentu. Apalagi sekarang musim hujan, dan lokasi perkemahannya pum masih dekat hutan jati begitu. Bisa dibayangkan, bagaimana susahnya kalau hujan… 
 
Hari Jumat kemarin itu, dikira anak-anak, termasuk saya sendiri, bakal pulang pagi. Karena kita semua berasumsi, kalau mau berangkat kemah kan lazimnya kegiatan pembelajaran dihentikan lebih pagi daripada biasanya. Dasar sekolah saya yang sok teladan, anak-anak masih saja disekap sampai jam 11, 2 jam tepat sebelum pemberangkatan. 
 
Anak-anak pun gondok, karena dikiranya bisa checking-checking dulu sebelum berangkat, eh, malah dipulangkan jam segitu dan lagi pelajarannya full pula. Mana waktu jam olahraga, gurunya diganti, kita-kita jadi pegal gitu habis dikasih stretching atau apalah yang nekuk-nekuk kaki sampai kayak origami.. ( ehehe… ini mah, kitanya saja yang bandel.. ^_^ ). Jam bahasa Inggris, anak-anak tidak mengerjakan tugas yang diberikan, padahal nanti dikumpulkan. Tahunya, seusai jam matematika terakhir, anak-anak ribut sendiri cari contekan tugas Bahasa Inggris. Jam matematika, pada gelisah memikirkan checking barang-barang sebelum kemah. Wah, ributnya kayak pasar, deh… 
 
Tidak disangka-sangka, kemungkinan terburuk hari itu, hujan, turunnya pas jam terakhir matematika. Seperti koor, anak-anak berseru jengkel ke arah hujan, yang membuat mereka tambah gelisah memikirkan nasib kemah mereka nanti. Guru matematika saya sampai heran melihat anak-anak, juga heran kenapa saya dan Gotek kok kelihatan tenang-tenang saja, tidak jejeritan seperti anak-anak lain. 
 
Akhirnya, percakapan tiga arah pun dimulai, antara saya, Gotek dan Bu Guru Matematika. Topiknya, seputar pemberangkatan kemah Bantara, dan masalah berangkat hajinya si guru sendiri dan orang tua saya. Hasilnya, guru matematika pun berpendapat sama seperti orang tua saya dan Gotek. Kemahnya bakal agak berantakan, karena cuacanya jelek, sering hujan, apalagi lokasinya di dekat hutan jati.  
 
Bu Guru juga bilang, nanti kalau begini juga kondisi anak-anak jadi gampang drop, nanti juga berpengaruh ke hasil psikotes yang tepat dilaksanakan Hari Senin setelah selang sehari pulang kemah, yang nanti dikhawatirkan hasil psikotes anak-anak pada jeblok gara-gara tidak belajar setelah kecapaian ikut kemah kemarin. 
 
Bel lalu berbunyi, anak-anak bersorak gembira. Sambil ambil ancang-ancang cari conteka bahasa Inggris, anak-anak tetap mendengarkan nasihat Bu Guru Matematika yang terakhir, jaga kondisi selama kemah supaya hasil psikotes besok Senin sesuia denagn yang anak-anak inginkan. Well, kelas pun usai. Saya lalu melangkah keluar setelah mengumpulkan tugas bahasa Inggris itu, dan berdoa supaya anak-anak selamat saja sampai besok pulang kemah.
Tak disangka, saat di luar kelas, saya bertemu Sorata dan Yuckie ( Sorata ketemu di perempatan dekat BK, Yuckie di depan Koperas ). Yuckie ngobrol sebentar, yang intinya doaian saja supaya selamat di kemah nanti, dan juga supaya selamat gak ketemu beruang di hutab jati dekat lokasi kamp.. ^_^;. Yah,.. begitulah! Anak-anak yang ikutan kemah sengasara disiksa kejamnya alam dan bentakan senior, saya sendiri asik-asikan baca NG Indonesia sambil OL seenak udel… SEmoga kemah kalian menyenangkan, wahai teman-temanku..!! ^_^

Sepintas, dua hal ini amat sangat tidak ada hubungannya. Mana ada, mengerjakan tugas lalu saat mengumpulkannya, kita mati? Oh yeah, saya lupa, kemungkinan mati itu memang ada, sih. Cuma, dalam kondisi lumayan fit dan tidaka ada keluhan apapun, kita hampir tidak memikirkan kemungkinan mati itu, bukan? 

Ya, beginilah kisah lengkapnya… 

Sore itu ( 7/2 ), saya berencana akan mengumpulkan tugas karya ilmiah sosiologi ke rumah sang guru, yang kebetulan tidak terlalu jauh letaknya dari SMP saya dulu. Tentunya, sebelum berangkat, saya harus berpamitan dahulu ke kedua orang tua saya. Tak dinyana, pap saya tidak mengizinkan saya keluar rumah, dengan alas an yang terlalu ruwet untuk dijelaskan. Kecewa? Ho~~, tentulah! Namanya juga manusia, eh, puppet, pasti dong! ^_^ 

Setelah negosiasi sampai telepon ke rumah Gotek dua kali juga sambil diomel-omeli sama mama, akhirnya terpaksa saya mengumpulkan tugas sosiologi itu bersama mama dan adik saya, yang sebenarnya akan pergi melayat ke rumah teman kerja ortu. Di sepanjang perjalanan, mama ( yang pada saat akan berangkat sudah saya beritahu di mana rumah guru saya itu ) tanya terus tentang guru sosiologi saya itu, karena seingat mama dulu papa pernah cerita kalau rumah salah serorang teman masa SMA papa saya ada yang lokasinya dekat dengan SMP saya dulu. Pertanyaan mama makin menjadi-jadi saat mama melihat kalau yang menerima tugas saya bukan sang guru sendiri, tetapi anak sang guru. Coba bayangkan betapa kesalnya saya, dari mulai berangkat, berhenti di rumah penjahit, lalu ke rumah ibu guru sosiologi, sampai hampir berhenti di depan rumah teman kerja ortu, mama masih tanya-tanya masalah guru itu. Hu~~uh! Pusiingg…!!! Jadinya, saya diam saja. Daripada tambah pusing…^_^ 

Akhirnya, kepusingan saya berhenti. Saat di rumah duka, mama sibuk mengobrol masalah kematian orang tua teman kerja papa. Saya tidak begitu memperhatikan, sih. Tetapi, sedikit-sedikit saya curi-curi dengar, dan yah, sedikit banyak saya tahu tentang flashback cerita sebelum meninggalnya orang tua teman kerja papa. Si nenek ( karena ternyata yang meninggal itu perempuan ), umur 78 tahun, meninggal entah di rumah sakit mana ( ehehe… yang ini saya agak kurang jelas ^_^ ), karena infeksi berat. Sebelum meninggal si nenek sempat membuka mata dan melihat anak-anaknya berkumpul di sekeliling kasurnya… yang disimpulkan mama saya dan temannya sebagai ‘salam absensi kematian’. 

Jauh sebelum beliau meninggal, ternyata si nenek juga sempat jengkel kepada seseorang yang dulu pernah beliau tampung di rumahnya, ternyata meninggalkan si nenek sendiri karena orang itu telah menikah dengan orang lain. Mungkin ini juga terbawa saat si nenek meinggal dunia…. ( semoga tidak jadi dendam dalam kubur.. ) 

Yah, kasihan juga mendengar kisah singkat hidup si nenek. Tetapi sudah terlanjur terjadi mau diapakan lagi? Saya, yang hanya mendengar sekilas-sekilas saja, hanya bisa menyimpulkan dan menafsirkan sedikit cerminan dari kisah hidup si nenek. Di antaranya, selesaikan dulu apa saja yang menjadi kewajiban saya. Karena di dunia ini, hukum timbal balik saja yang terjadi. Siapa menuai, itulah yang dahulu menanam. Kewajiban atau tugas saya itu apa saja? Ho~~, jelas bermacam-macam. Ratusan post di blog ini tak akan bisa menjabarkannya, karena tugas saya itu tidak bisa hanya dituliskan tanpa diselesaikan. Kalau tidak selesai, akibatnya akan saya tanggung saat mati. Yah, seperti si nenek itu, atau apa yang akan terjadi kalau saya tidak mengumpulkan tugas sosiologi saya itu. 

Lalu, saya tidak boleh melupakan apalagi meninggalkan orang tua saya, baik apapun itu keadaannya. Saya tidak mau, nantinya orang tua saya akn terlupakan di saat-saat tua mereka nanti. Jangan seperti si nenek, yang hanya sekilas lewat saja dikunjungi sekali waktu oleh anak-anaknya, dan ditinggal sendiri oleh orang yang dulu pernah ditampungnya. Ho~~, tragis sekali….

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!